Penulis yang baik adalah penulis yang tidak bahagia. Satu opini itu mencuat dalam salah satu milis. Keningku mengerut, memikirkan kalimat itu, lalu sedikit demi sedikit mulai mengakui kebenarannya.
Kahlil Gibran adalah contoh paling sempurna untuk pernyataan itu. Hampir semua karya besarnya lahir di saat hatinya sedang patah oleh cinta. Dan lihatlah betapa indah syair-syairnya. Dan betapa karyanya abadi--masih dibaca berabad-abad setelah kepergiaannya.
Penulis yang baik adalah penulis yang tidak bahagia. Mungkin itu karena saat hati merasakan sakit dan sedih, ada impuls yang mendorong seseorang untuk mencurahkan sakitnya. Saat-saat emosional adalah saat-saat di mana hati dalam kondisi peka merasakan berbagai perasaan. Hati yang peka bisa memetakan rasa dengan lebih dahsyat. Lalu pada akhirnya terpercik keinginan untuk mengabadikan sensasi itu.
Seorang teman mengatakan tulisan-tulisanku penuh penderitaan dan kesedihan. Well, aku tidak hendak mengatakan aku penulis yang baik, tapi faktanya adalah saat aku tidak bahagia, otakku seringkali mendesakku melakukan sesuatu : menuliskannya. Dan memang aku lebih produktif saat hati ini sedang porak poranda, atau paling tidak saat aku sedang tidak bahagia.
Tapi… setelah memikirkannya, kupikir itu kurang sehat. Sebab jika aku ingin menghasilkan karya-karya bagus, aku mesti mengkondisikan diri menjadi tidak bahagia. Ah… tidak, tentu aku nggak mau seperti itu. Aku ingin bahagia. Aku ingin saat aku bahagia (ataupun sedang bahagia maupun tidak bahagia) aku bisa mengkaryakan rasa dan logikaku dengan baik pula.
Seperti saat ini. Aku tidak sedih, tidak pula senang. Kuminta hatiku merasakan emosi-emosi di sana, kuminta pikiranku mencari kalimat-kalimat berharga. Hasilnya… tidak terlalu mengecewakan. Bukan begitu?