Tidak terasa, tahun akan berganti lagi. Cepat. Demikian cepat. Rasanya aku masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana Desember tahun lalu aku bertemu dia untuk pertama kalinya. Aku masih ingat mengikuti tes demi tes berburu pekerjaan. Aku masih ingat kekosongan yang kurasakan waktu itu.
Sekarang, aku sudah nyaris tidak pernah lagi bertemu dia. Sekarang, aku sudah bekerja di sebuah tempat di Jakarta—kota yang dulu tidak pernah masuk dalam hitungan. Sekarang, meski aku masih sendiri, hatiku tidak lagi merasakan kosong.
Bisa dikata, aku bahagia. Aku bahagia dengan diriku yang sekarang, dengan segala tantangan yang menunggu di depanku. Termasuk tuntutan tak kasat mata yang bakal mengujiku bagaimana menghadapi pernikahan empat teman baikku. Yah, bahkan mungkin aku harus menghadapi lebih dari empat pernikahan tahun depan. Yang menakutkan (menakutkan? Really?), aku masih berkutat dengan kesendirianku. Dan aku mulai bosan dengan berbagai pertanyaan dan sindiran tentang pasangan hidup ini.
(Jangan tertawa) Ternyata… aku takut sendirian. Aku mulai kehilangan rasa nyaman menikmati sendirian momen-momen penting dalam hidupku. Kamu tahu artinya "sendiri". Maksudku tentu saja : tanpa ada "seseorang" di sampingku. Tanpa pasangan. Aku memang punya keluarga yang hangat dan teman-teman yang hebat. Tapi aku nggak bisa bohong kalau (ternyata) aku menginginkan orang dengan peran lain itu. Dia, yang berjalan di sampingku.
Apakah aku kurang bersyukur? Dengan segala yang kuraih dan kumiliki aku masih saja merasa kurang? Ya. Sebenarnya aku malu mengakuinya. Tapi aku harus memberanikan diri mengakui kalau aku memang merasa ada yang kurang dalam hidupku. Ah, manusia. Betapa rakusnya manusia itu, ya?
Lalu... apakah cinta itu dicari? Atau cinta datang sendiri? Seorang bijak mengatakan, saat kita mulai mencari cinta, cinta itu pun mulai mencari kita. Itu kata orang bijak. Kalimat yang indah memang. Tapi tidakkah kamu rasakan kalimat itu begitu absurd? Bagaimana cara Cinta mencari kita?
Aku membayangkan aku dan Cinta ada dalam sebuah labirin yang luas. Kami sama-sama tidak memiliki peta labirin itu. Jadilah kami berputar-putar tak tentu arah. Ngeri kan? Di labirin itu kami nggak punya petunjuk. Kami cuma bisa mengandalkan keberuntungan dan keyakinan—bahwa di suatu sudut dan detik tertentu kami akhirnya bertemu. Kapan dan di mana… tidak satu pun dari kami tahu. Sungguh menakutkan.
Karenanya… kupikir orang-orang yang telah menemukan Cinta mereka adalah orang-orang yang beruntung. Mereka layak merayakannya. And marriage is the most beautiful way to celebrate their Love. Dan aku sering merasa iba pada orang-orang yang menyia-nyiakan Cinta. Sebab Cinta tidak mudah diraih.
Jadi… pembicaraan kembali ke cinta-cintaan nih. Heran. Sepertinya memang susah untuk nggak membicarakan topik yang satu itu. Well, anyway… have you found your love? If not yet, go look for it. Because it will find you by the time you start to look for it. Good luck!