Catatan 10 Desember 2004
Tiga hari ini, aku survei untuk tugas riset sosial tentang wabah diare di Surabaya. Jujur, aku memulainya dengan teramat sangat malas. Gimana nggak? Lokasi survei nun jauh di sana: Rungkut. Dan obyeknya adalah pemukiman kumuh yang (nota bene!) kotor, bau, banyak lalat, banyak tahi ayam atau kambing… dan lagi, gratuit alias nggak ada upahnya! Duh, waktu untuk survei yang dibayar aja aku nggak terlalu excited, eh… ini gratisan…
Tapi ternyata di balik semua "penderitaan" itu, aku ngerasaain juga yang namanya: senang. Aneh bin ajaib. Tiba-tiba saja aku jadi menikmati acara muter-muter kampung buat nyari orang yang kena diare. Apalagi waktu menyadari aku sedang mengalami dan melakukan apa yang kuberi nama: to touch a life.
Mereka—orang-orang dari sisi kehidupan yang jauh berbeda denganku itu—menyentuh hatiku dengan cara yang nggak bisa kumengerti, yang nggak pernah kubayangkan. Dan aku yakin, dengan cara tertentu aku juga tengah menyentuh kehidupan mereka. Beberapa dari mereka curhat. Tentang air PDAM dan sumur yang keruh. Tentang nggak bisa membeli susu buat anak mereka. Tentang anak mereka yang sering sakit diare. Tentang mereka yang jarang beli jajanan karena duit terbatas. Tentang rumah mereka—kalau bisa disebut rumah—yang cuma sebesar kamarku…
Anehnya, mereka nggak sedang mengeluh. Mereka cuma bercerita. Dan aku lumayan takjub karena mereka tampaknya baik-baik saja dengan keadaan itu. Lebih-lebih saat aku menyadari betapa mereka kelihatan bahagia. Sumpah! Aku sendiri merasa sulit membayangkan tinggal di tempat seperti itu; kamar-kamar kos yang sempit dan kotor. Dan kalau mereka bisa membangun keluarga di sana… kupikir itu sebuah keberanian dan prestasi besar.
Aku juga mampir ke rumah susun. Ada empat lantai dengan pemandangan jemuran yang begitu familier menghiasi lorong-lorong dan "balkon". Tapi lagi-lagi, para penghuninya kelihatan enjoy aja tuh tinggal di sana. Mungkin itu karena mereka sudah terbiasa. Sepintas, kondisi rusun memang lebih baik ketimbang kamar-kamar kos tadi. Tiap rumah di rusun itu bisa disekat menjadi beberapa ruangan. Satu kamar mandi disediakan untuk dua keluarga. Beda dengan komplek kamar kos tadi, di mana satu kamar mandi dipakai sampai untuk delapan keluarga. Dahsyat ya?
Hhh… Betapa banyak hal yang belum kulihat…
Kalau saja aku nggak ngambil kuliah riset sosial… kalau saja aku nggak setuju soal penelitian diare, kalau saja aku nggak kebagian daerah Rungkut… aku nggak akan pernah tahu gimana wajahnya rumah susun. Aku mungkin juga nggak bakal tahu kalau ada keluarga-keluarga yang tinggal di sebuah kamar sempit yang sewanya sekitar 70 ribu sebulan. Whew!
Back to the topic: to touch a life.
Aku nemu istilah ini dalam perjalanan pulang dari survei. Sementara temenku sibuk nyetir, pikiranku melayang-layang nggak keruan. Dan aku suka sekali dengan istilah itu. Seperti halnya aku suka kata-kata Raja Theodred (di "Lord Of The Rings") yang doyan bilang: I know your face pada Eowyn. Hehehe… nggak ada hubungannya ya?
Yang jelas… mataku jadi terbuka lebih lebar bahwa dunia ini berisi kehidupan yang beraneka ragam. Aku sungguh beruntung sisi hidupku telah disentuh oleh sisi kehidupan yang lain itu. Paling tidak aku jadi bisa lebih mensyukuri hidup yang kupunya.
Memang masih ada buanyak macam kehidupan lain yang tarafnya jauh di "atas"ku. Orang-orang beruntung yang merasakan hidup mudah dan bisa mencicipi yang indah-indah. Tapi rasanya… aku nggak punya alasan untuk iri ataupun meratapi apa yang tidak kumiliki, karena di "bawah"ku juga banyak kehidupan yang mengais-ais sesuatu yang kumiliki tapi nggak bisa mereka raih.
And... I pray...
Thank God for touching my life this way.
Thank God for allowing me touch their life that way.
It's kind a exquisite way to show me how impressive You made up this life. I wish You keep showing me beautiful path to live my life. And let me reach happiness perpetually.
Posted at 4.1.07 by truelia
 |  |  |
Anin January 8, 2007 11:17 AM PST
Jadi ingat waktu aku pertama kali main ke kos-kosan teman. Satu di dataran tinggi Cimbeuleuit dan satu lagi di lembah sungai Babakan Siliwangi.
...
Sori, pasti enggak tahu, ya? Ya percaya deh kalau Tuhan itu ada dan kesadaran inilah salah satu caraNya menunjukkan. |
 |

 |  |  |
truelia January 8, 2007 08:45 AM PST
Wow! Bersyukur adalah keindahan hidup...
Kamu melengkapi tulisan ini dengan kalimat yang sangat indah, Upik! |
 |

 |  |  |
Upik January 6, 2007 04:02 PM PST
to touch a life. Sebuah istilah yang luar biasa. Terkadang, sebagai manusia, kita iri melihat mereka yang lebih 'diatas' kita. Kita lupa bahwa masih bayak orang 'dibawah' kita.
Aku dulu mungkin termasuk orang yang selalu melihat 'ke atas' sampai akhirnya sebuah pengalaman menyentuh kehidupanku. Aku bertemu dengan seorang yang seratus kali lipat di atasku, kaya, cakep,pinter,aktor ngetop, penyanyi terkenal, memiliki banyak kelebihan yang tidak mungkin bisa aku miliki. Tetapi, Tuhan memang adil. Saat aku dekat denganya, dia mengajakku untuk melihat 'ke bawah'. Dia membuat aku tersadar dari mimpiku.
Saat itu aku menyimpulkan bahwa inilah hidup, beraneka rasa,beraneka warna.
Kita bisa karena biasa. Dan, orang-orang yang 'di bawah' itu, bukan tidak ingin lebih tinggi tetapi sedang menikmati hidupnya. Bersyukur akan karunia Tuhan.
Terkadang, justru mereka yang 'di atas' yang tidak bisa mensyukuri nikmat Tuhan. Mereka selalu menoleh ke atas dan tinggi tak ada batasnya selama manusia masih memiliki keinginan.
HIDUP KITA AKAN TERASA TINGGI JIKA KITA MENOLEH KE BAWAH, AKAN TERASA RENDAH JIKA KITA MENOLEK KE ATAS. MAKA BERSYUKUR ADALAH KEINDAHAN HIDUP. |
 |