Aku bohong. Aku seorang pembohong. Aku adalah pembohong paling laknat karena aku membohongi diriku sendiri. Ini... tentang saat-saat belakangan yang demikian sukanya aku mengatakan betapa aku bahagia.
Aku bohong. Saat kukatakan aku selalu bahagia, aku tidak bersungguh-sungguh. Aku tidak selalu bahagia. Aku sering merasakan sedih. Namun, demi sebuah penghiburan aku mengatakan aku bahagia. Aku bahagia sebab menantikan sesuatu di depan sana.
Manusia selalu menyimpan kesedihan, ketidakpuasan, perih, lara, dan sesak di hidupnya. Ada manusia yang dengan kedok bijak (berpura-pura bijak, mencoba menjadi bijak, bla bla bla) menghadapinya dengan senyum, menunjukkan betapa ia bahagia dengan hidupnya. Aku termasuk manusia itu. Aku semakin sedih menyadarinya.
Aku mestinya memilih menjadi diriku sendiri yang ekspresif, bukannya memaksakan senyum-senyum tersungging di bibirku, apalagi dengan koar menyatakan betapa aku bahagia atas hidupku.
Tidak demikian adanya. Sebenarnya ada saat-saat aku merasakan sedih juga. Saat ketika hidup tidak menyajikan apa yang kuimpikan. Aku terluka, aku kecewa, meski mulutku mengatakan aku bahagia, meski jariku mengetikkan aku bahagia.
I've made my choice. It's okay not being happy once a while. But I'd better admit it, than become a liar. It's really okay to let people know that I'm not happy. As today.