Kemarin nonton acara URBAN di salah satu stasiun TV swasta (bukannya nggak mau nyebutin stasiun apa, tapi lupa! Kalau nggak RCTI ya SCTV). Pertama kalinya aku nonton acara ini, dan surprise! temanya sangat... mmm apa ya istilah yang tepat... touching!
Sebuah cerita tentang manusia jembatan.
Dikisahkan... di kolong jembatan tinggallah beberapa keluarga yang hidup dalam serba keterbatasan. Bukan di tanah di bawah jembatan, tapi di besi-besi rangka jembatan yang sudah mereka sulap menjadi rumah dengan menempatkan triplek atau papan di "lantai" dan "dinding"nya.
Salah satu keluarga di sana adalah seorang ibu dengan dua anaknya. Yang satu masih SD, yang satu lagi sudah SMP. Ibu itu menghidupi keluarganya dengan memulung sampah yang mengalir di sungai di bawah "rumah" mereka.
Si ibu bercerita... dia dulu punya lima anak. Tiga orang ia ceritakan meninggal. Pertama karena tipes, kedua entah karena apa, ketiga karena ginjal dan tipes. Dia menceritakannya seperti sedang bercerita tentang cuaca. Sangat datar. Seolah kehilangan yang besar itu bukan sesuatu yang mengguncang hidupnya. Ataukah orang seperti dia sudah punya ukuran lebih tinggi mengenai goncangan hidup? Mungkin.
Dia bercerita... dia senang saat sungai sedang deras, karena berarti banyak juga sampah yang bisa ia kumpulkan. Dua hari ia bisa mengumpulkan 3 karung sampah plastik yang dihargai 25 ribu.
Diceritakan... sepulang menukar sampah dengan uang itu, ia menjemput anaknya pulang sekolah. Dua anak itu mencium tangannya, ia pun dengan tangkas membawakan tas sekolah kedua anaknya sambil sebelumnya tak lupa memberi mereka masing-masing seribu rupiah.
Ironis ya? Uang 25 ribu itu... sering menjadi ongkosku sekali makan.Dan yang lebih tragis lagi adalah mengingat kenyataan bahwa itu cuma satu kisah. Satu kisah saja tentang kemelaratan di tengah gemerlapnya Jakarta.
Selepas menyaksikan tayangan itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya : di mana letak keadilan? Jika adil adalah menempatkan sesuatu sesuai proporsinya, apakah itu berarti orang-orang itu memiliki porsi kekuatan yang jauh lebih tinggi dan lapang daripada aku? Apakah artinya mereka adalah orang-orang pilihan untuk mendapat ujian kemiskinan dan keterbatasan sedang ujian untukku adalah serba-kecukupan? Apakah itulah proporsi mereka dan inilah proporsiku? Apakah itu adil?
Di dunia ini banyak orang bergelimangan kekayaan. Orang-orang yang bingung bagaimana membelanjakan harta mereka. Tapi di sisi lain, dunia juga menyimpan banyak kegetiran. Tentang kekurangan, tentang kehilangan, tentang airmata.
Katakan, bagaimana menjelaskan uang 25 ribu itu? 25 ribu yang bagi manusia-manusia jembatan itu adalah hidup, sedang bagi yang lain hanya uang receh? Tolong katakan, bagian mana yang bernama adil di sana?
Ataukah... hidup ini memang tidak pernah adil?