Ada apa dengan Monas?
Aku sering menanyakannya dalam hati. Ada apa dengan Monas hingga nyaris tiap kali aku ngajak teman ke sana, sambutannya selalu itu-itu saja: sedikit kernyit heran di dahi, tawa geli atau kadang meremehkan, atau terang-terangan memandangku seolah aku ini alien. Mungkin bukan alien, lebih tepat : orang udik yang "ndeso keso-keso".
Ini sungguh nggak adil. Nggak adil buat siapa? Buat Monas tentu saja. Orang sudah terlanjur memandang sebelah mata, atau bahkan nggak sudi memandang monumen satu ini sedikit pun. Aku juga merasakan ada nada takut di sana. Nada takut dianggap nggak gaul kalau jalan ke Monas.
Tuh, kan? Nggak adil, kan? Mereka menilai Monas hanya dari opini orang lain. Hanya dari "katanya-katanya" yang tidak terlalu bisa dipercaya.
Monas itu menyenangkan kok. Apalagi di malam hari. Hiruk-pikuk Jakarta nggak kedengeran di sana. Rasanya kayak nggak di Jakarta saja (sampai saat menyadari monumen tinggi itu di depan mata).
Tempat yang cocok buat membersihkan pikiran, re-charge lagi setelah seharian memforsir otak.
Ayo, datang ke Monas... dan beri penilaianmu sendiri.
Aku berani taruhan. Kalau Monas memang mengecewakan, kamu kubeliin sebotol teh favorit kamu deh...
Posted at 20.7.06 by truelia