Ar Rahman, surat yang istimewa.
Kenapa istimewa? Sebab di dalamnya ada satu ayat yang diulang sebanyak 28 kali [dari 78 ayat]. Kenapa sebanyak itu? Pasti karena ayat itu demikian penting. Dan kenapa 28? Yang itu aku belum tahu alasannya.
Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadzibaan.
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
Ya. Nikmat Tuhan mana yang telah kudustakan? Banyak. Mungkin sangat banyak. Aku—seperti kebanyakan manusia lainnya—memang sering lupa untuk menyadari (dan mengakui) betapa Tuhan telah menulis takdir dengan sempurna. Betapa Tuhan telah dengan sangat proporsional membagi rizki bagi makhluk-Nya.
Napas. Indra. Akal. Kesehatan. Penghidupan. Kerabat dan teman-teman. Rasa. Maka haruskan aku terus merasa kekurangan di tengah limpahan rizki itu? Ooh… nikmat mana lagi yang telah kulupakan?
Tuhan telah mengatur segalanya. Masa lalu, sekarang, sampai masa depan. Tuhan senantiasa menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, membagi rizki, dan segala kesibukan Ilahiah lainnya. Tuhan tidak pernah lalai. Ya, Tuhan tidak akan pernah lupa. Termasuk padaku (dan tentu saja padamu). Meski aku cuma seorang yang tidak terlalu istimewa. Kenapa Ia tidak melupakan aku? Sebab aku mengasihi-Nya. Lagipula, Dia adalah Sang Maha Pengasih.