Ia membakar dirinya demi memberi sekitarnya cahaya. Demikian orang-orang menyanjung lilin. Lilin aneka rupa yang membungkus selarik sumbu yang perlahan namun pasti menggerogoti selimutnya. Nyalanya meliuk-liuk cantik dihembus angin tipis, membentuk bayangan sakral di dinding yang pucat.
Aku tidak suka menyaksikan orang yang dengan kedok kebaikan hati bersedia mengorbankan dirinya terbakar demi menerangi sekitarnya. Orang yang dengan wajah malaikat rela menderita demi melihat orang lain bahagia--di atas penderitaannya.
Kenapa harus membakar diri? Mengorbankan kebahagiaan sendiri demi orang lain yang kadang tidak menghargai sinar lembut lilin? Mereka bahkan jarang menyadari pengorbanan itu. Sebab jika mereka tahu, kebanyakan dari mereka jadi ikut tidak bahagia.
Aku lebih suka tidak menyalakan lilin jika dengan terbakarnya lilin itu harus ada tersiksa. Aku pun tidak mau menjadi lilin, sama tidak maunya dengan menyaksikan seseorang menyerahkan diri menjadi lilin, demi membuatku hangat, demi membuatku bisa melihat.
Kupikir, tidak apa-apa untuk sementara tidak bisa melihat apa-apa asalkan aku tahu ada seseorang menemaniku. Kenapa harus membakar diri, jika ada pilihan lain yang lebih mudah dan lebih menyenangkan?
Kamu... sayangku... jangan membakar dirimu demi membuatku bisa melihat di kegelapan. Aku tidak keberatan terjebak gelap, asal kamu tetap ada di sampingku.
Kamu cukup berada di sampingku.
Posted at 7.10.06 by truelia