Akhir-akhir ini aku merasa menjadi manusia yang lebih baik dari aku yang sebelumnya. Sungguh perasaan yang menyenangkan, serasa telah melakukan sebuah pencapaian dalam hidup. Yah, kupikir ini memang pencapaian.
Kadang, waktu aku memikirkan Amalia versi lama, aku merasa begitu iba padanya. Pada rasa kesendiriannya, pada caranya melewati hari-hari, pada bagaimana ia membawa dirinya. Sampai-sampai aku ingin sekali memeluk tubuh kecilnya, lalu mengusap rambutnya sambil berkata : Kamu istimewa.
Sebab dia memang istimewa. Itu bukan sekadar kalimat penghibur, tapi itulah dia. Istimewa. Dialah Amalia yang berempati pada orang lain. Dialah gadis cilik yang memikirkan hidup terlalu banyak dengan jam terbangnya yang minim. Mungkin jika dia tidak berpikir terlalu banyak, dia bisa lebih gemuk.
Yang membuatku senang, kulihat Amalia yang sekarang lebih gembira. Amalia yang sekarang lebih sabar.
Aku tentu saja menyukai Amalia yang sekarang ini. Meski kadang dia lupa diri, dan lagi-lagi bersikap terlalu ekspresif menunjukkan perasaan-perasaannya dengan terang benderang tanpa tedeng aling-aling. Tapi aku juga menyukainya seperti itu. Dia tidak pernah berbohong dengan matanya, dengan hatinya. Saat dia sedih, mata itu akan sedih. Saat dia senang, mata itu akan berbinar. Saat dia marah, sekujur tubuhnya akan mengeluarkan energi negatif yang tidak akan mungkin lolos dari radar siapapun yang berada dalam radius beberapa meter darinya.
Dan aku tersenyum di sini, memperhatikannya tumbuh. Mengawasinya belajar menjadi dewasa. Tentu saja aku percaya dia akan sampai di titik itu. Titik kematangan yang akan menjadikannya sebagai individu yang unik dan berharga.
Dia sering bertanya apakah dia berharga.
Aku selalu membisikkan padanya bahwa dia berharga saat dia berhenti berpikir dia tidak berharga.
Dia sering bertanya apakah dia layak dicintai.
Aku lalu mencubitnya dan mengatakan tentu saja dia layak. Tidak tahukah dia kalau bahkan orang seperti aku pun mencintainya?
Dia pernah juga bertanya apakah akan ada orang menangisinya kalau dia mati.
Kujawab sambil kutatap lekat matanya; mungkin ini saatnya berpikir kalau nilai seseorang tidak dihitung dari berapa banyak tetes air mata yang tercurah saat jasadnya dipeluk bumi.
Kadang aku mikir siapa sih orang sok tahu yang terus nyerocos di benakku itu? Dasar orang gila, ya? Mikir-mikir sendiri... dijawab-jawab sendiri... Makanya jangan sendiri terus!! Shut up!!
Posted at 6.11.06 by truelia