|
Seringkali, aku ingin dalam hidup ini tersedia tombol undo atau escape. Bahkan kadang secara reflek, setelah aku melakukan kesalahan, jariku spontan menekan sesuatu di hadapanku... seolah di sana ada dua tombol itu. Yah, kalau dua tombol itu benar-benar ada, mungkin aku bakal sering menggunakannya. Pernah suatu kali, gara-gara emosi yang nggak terkendali, aku mengucapkan kata-kata yang menyakitkan lawan bicaraku. Pernah juga aku menusukkan tatapan marah yang sungguh tidak enak dilihat. Atau melengos, mencibir, menertawakan sesuatu yang mestinya tidak kutertawakan, mengungkapkan isi hati yang mestinya tetap rapi disimpan, mengomentari sesuatu dengan komentar yang nggak cerdas, tidak mengomentari sesuatu yang mestinya kukomentari... Aku juga pernah ingin meng"undo" pertemuanku dengan orang yang akhir-akhir ini terus menghantuiku dan cuma bisa bikin aku sedih dan sakit. Meng"undo" hal-hal yang baru terasa akibat buruknya belakangan. Meng"undo" jalan yang kupilih di persimpangan, lalu memilih jalan yang satunya... Lalu tombol escape, meski tak terlalu sering, pernah juga ingin kutekan. Misi penyelamatan diri. Undo... escape... kalau dua tombol itu tersedia dalam hidup kita... tentunya banyak hal yang bisa kita selamatkan. Menjadikan sesuatu lebih baik dan mengurangi penyesalan di belakang. Aku cuma berharap nggak akan pernah ingin menekan tombol ctrl-alt-del. Sebab itu berarti : tamat. Aku... belum ingin tamat. |
| Leave a Comment: |